Beranda Daerah IPKJI NTT dan DPD PPNI Kabupaten Kupang Berkolaborasi dalam Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia
Daerah

IPKJI NTT dan DPD PPNI Kabupaten Kupang Berkolaborasi dalam Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

KUPANG, infoperawat.id – Organisasi profesi keperawatan turut mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa. Melalui kolaborasi bersama Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Jiwa Naimata Kupang dan sejumlah […]

Ketua IPKJI Provinsi NTT, Imakulata Bete, S.Kep., Ns., saat memfasilitasi sesi stress release melalui metode butterfly hug.

KUPANG, infoperawat.id – Organisasi profesi keperawatan turut mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa. Melalui kolaborasi bersama Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Jiwa Naimata Kupang dan sejumlah komunitas, Ikatan Perawatan Kesehatan Jiwa Indonesia (IPKJI) Provinsi NTT dan Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kabupaten Kupang terlibat dalam kegiatan “Baku Dengar edisi Bulan Kesehatan Mental Sedunia” yang berlangsung di D’Art Café and Gallery, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan yang mengusung tema “Lived Experiences Heard: Real Voices, Real Change” ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Tahun 2026. Selain organisasi profesi keperawatan, kegiatan tersebut melibatkan Global Village for Hope (GVH), Yayasan Jaringan Peduli Masyarakat (JPM), Mentalmate, Tenggara Youth Community, Dewanta Mental Healthcare, dan D’Art Café and Gallery.

Hadir dalam kegiatan tersebut Plt. Direktur RSKD Jiwa Naimata Kupang, Novy Enggelin Elim, S. Farm., Apt.; Ketua IPKJI Provinsi NTT, Imakulata Bete, S.Kep., Ns.; Founder Mentalmate, Rinto Kaleka; Publicist and Supervisor Global Village for Hope, Andreas Ayup; perwakilan mitra kolaborasi, serta peserta dari berbagai komunitas.

IPKJI Terlibat dalam Edukasi dan Relaksasi 

Salah satu keterlibatan organisasi profesi keperawatan dalam kegiatan ini terlihat melalui sesi stress release dengan metode butterfly hug yang difasilitasi oleh RSKD Jiwa Naimata Kupang bersama IPKJI Provinsi NTT. Sesi tersebut dipandu oleh Ketua IPKJI Provinsi NTT, Imakulata Bete, S.Kep., Ns., yang sehari-hari bekerja di RSKD Jiwa Naimata Kupang.

Imakulata dalam pengantarnya menjelaskan pengaruh pikiran bawah sadar terhadap perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajak peserta untuk berupaya membangun pola pikir positif, meskipun mengakui bahwa hal tersebut tidak selalu mudah dilakukan. Menurutnya, ada orang yang begitu sibuk berusaha menyenangkan orang lain hingga lupa menyenangkan dan menyayangi dirinya sendiri.

Melalui metode butterfly hug, Imakulata mengajarkan latihan sederhana untuk membantu peserta merasa lebih rileks dan tenang. Latihan tersebut juga diarahkan untuk membangun apresiasi positif terhadap diri sendiri sehingga seseorang dapat merasa lebih berharga dan percaya diri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Keterlibatan IPKJI dalam sesi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang memadukan edukasi kesehatan mental, ruang berbagi pengalaman, dan aktivitas yang melibatkan peserta secara langsung.

Sementara itu, DPD PPNI Kabupaten Kupang turut terlibat sebagai salah satu mitra kolaborasi penyelenggaraan kegiatan bersama RSKD Jiwa Naimata Kupang dan organisasi lainnya.

Kesehatan Mental Bukan Aib 

Plt. Direktur RSKD Jiwa Naimata Kupang, Novy Enggelin Elim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran berbagai organisasi dan komunitas menunjukkan adanya kepedulian terhadap persoalan kesehatan mental.

“Anda semua luar biasa!” cetusnya.

Novy menilai, masalah kesehatan mental masih sering diabaikan karena sebagian masyarakat menganggapnya sebagai persoalan yang memalukan. Akibatnya, keluhan yang dialami seseorang terkadang tidak disampaikan secara terbuka, meskipun membutuhkan perhatian dan penanganan.

Karena itu, ia berharap momentum Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keterlibatan berbagai pihak dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental.

Menurut Novy, kegiatan Baku Dengar merupakan salah satu inisiatif untuk menyediakan ruang bagi penyintas agar dapat menyampaikan pengalaman dan keluhan mereka. “Kita semua diajak menjadi pendengar yang baik bagi semua orang. Jadi pendengar saja, tanpa harus berkata-kata banyak, tidak harus beri nasihat, apalagi saling menghakimi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa cerita dan pengalaman penyintas maupun keluarga mereka dapat menjadi masukan bagi RSKD Jiwa Naimata Kupang dalam memahami kebutuhan serta mengembangkan pelayanan kesehatan mental pada masa mendatang.

Novy juga mengibaratkan persoalan kesehatan jiwa seperti fenomena gunung es. Masalah yang terlihat belum tentu menggambarkan seluruh persoalan yang dialami seseorang. Jika tidak dikenali dan ditangani, masalah kesehatan mental dapat berkembang hingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan berdampak pada kehidupan sosial maupun ekonomi.

“Kita tidak perlu malu untuk menyampaikan keluhan mental, itu sakit yang perlu diobati,” tambahnya.

Novy turut mengapresiasi keterlibatan organisasi dan komunitas yang selama ini mengambil bagian dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental. Ia berharap peserta dapat ikut menyebarluaskan pemahaman bahwa masalah kesehatan mental bukanlah aib.

“Sampaikan kepada khalayak luas bahwa masalah kesehatan mental itu bukan aib,” lanjutnya.

Ia juga menyoroti peran anak muda dalam upaya meningkatkan kesadaran kesehatan mental, terutama melalui dukungan teman sebaya yang dinilai dapat lebih mudah diterima oleh kelompok usia yang sama.

Rangkaian Peringatan Melibatkan Betbagai Komunitas 

Novy menjelaskan bahwa kegiatan Baku Dengar merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Tahun 2026 yang telah dimulai sejak 8 Oktober 2026.

Rangkaian tersebut diawali dengan kegiatan family gathering yang melibatkan komunitas pecinta kesehatan jiwa, penyintas, dan keluarga penyintas. Melalui kegiatan ini, RSKD Jiwa Naimata Kupang ingin mendengarkan pengalaman mereka yang menjalani proses pemulihan maupun keluarga yang mendampingi.

Menurut Novy, keluarga penyintas menyampaikan pengalaman tentang kelelahan mental selama proses pendampingan serta tekanan ekonomi yang dapat memengaruhi kemampuan mereka memberikan perawatan. Sementara itu, para penyintas mengungkapkan bahwa mereka terkadang merasa tidak memiliki cukup ruang untuk bercerita karena orang lain lebih cepat memberikan nasihat daripada mendengarkan pengalaman mereka.

Pada 9 Oktober 2026, RSKD Jiwa Naimata Kupang mengadakan hospital tour bersama komunitas Mentalmate dan Tenggara Youth Community. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai pelayanan yang tersedia di rumah sakit, termasuk pelayanan kesehatan jiwa, kesehatan gigi, dan penyakit dalam.

Selanjutnya, pada 10 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, dilaksanakan kegiatan di arena Car Free Day (CFD) Kota Kupang. Kegiatan tersebut meliputi jalan sehat, pembagian stiker berisi kalimat afirmasi positif, edukasi kesehatan jiwa, dan skrining kesehatan jiwa.

Rangkaian peringatan kemudian berlanjut melalui kegiatan Baku Dengar pada 17 Oktober 2026.

Karya Kreatif Penyintas Turut Mendapat Ruang 

Selain sesi berbagi pengalaman, kegiatan Baku Dengar juga menghadirkan pameran lukisan, buku, dan berbagai karya kreatif hasil karya para penyintas masalah kesehatan mental. Karya-karya tersebut dipajang berdampingan dengan koleksi seni yang ada di D’Art Café and Gallery.

Novy menjelaskan bahwa kegiatan berkesenian merupakan salah satu bentuk terapi yang difasilitasi oleh RSKD Jiwa Naimata Kupang. Beberapa karya penyintas bahkan telah dibeli oleh masyarakat sehingga memberikan tambahan pendapatan bagi pembuatnya.

Ia berharap para penyintas tidak hanya memperoleh pelayanan selama proses pengobatan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan mencapai kemandirian ekonomi.

Selain pameran karya, kegiatan ini juga diisi dengan materi self-compassion yang dibawakan oleh Yayasnn Jaringan Peduli Masyarakat, sesi Baku Dengar yang difasilitasi Mentalmate, serta kegiatan zine making yang melibatkan Tenggara Youth Community bersama Mentalmate.

Founder Mentalmate, Rinto Kaleka, menjelaskan bahwa komunitas tersebut dibentuk pada 2024 untuk menyediakan ruang diskusi, berbagi pengalaman, dan edukasi kesehatan mental, termasuk melalui media sosial.

Ia mengatakan bahwa Mentalmate terbuka terhadap kolaborasi dengan berbagai organisasi dan komunitas.

“Tahun ini, kami sangat senang bisa berkolaborasi dengan RSKD Jiwa Naimata Kupang,” ungkapnya.

Melalui kegiatan tersebut, peserta memiliki kesempatan untuk berbagi cerita secara lisan maupun mengekspresikan pengalaman melalui media kreatif seperti menggambar dan membuat zine.

“Harapannya masalah kesehatan mental ini kita bisa bicarakan seperti biasa, sebagaimana obrolan kehidupan lainnya,” tandas Rinto.

Kegiatan Baku Dengar diselenggarakan melalui kolaborasi RSKD Jiwa Naimata Kupang, IPKJI Provinsi NTT, DPD PPNI Kabupaten Kupang, dan berbagai organisasi serta komunitas mitra dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Tahun 2026 di Kota Kupang.

 

Penulis : Saverinus

Sebelumnya

Aprisunadi Terpilih Jadi Ketua Umum DPP PPNI Periode 2026–2031, Siap Perkuat Organisasi dan Kesejahteraan Perawat

admin
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Info Perawat
Alaku
Alaku