Beranda Daerah Jelang HUT Ke-52 PPNI, DPD Sumba Tengah Turun Langsung Layani Warga Desa Ole Ate
Daerah

Jelang HUT Ke-52 PPNI, DPD Sumba Tengah Turun Langsung Layani Warga Desa Ole Ate

SUMBA TENGAH, infoperawat.id – Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang akan dirayakan pada 17 Maret 2026, Dewan Pengurus Daerah (DPD) PPNI Kabupaten Sumba […]

SUMBA TENGAH, infoperawat.id – Menjelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang akan dirayakan pada 17 Maret 2026, Dewan Pengurus Daerah (DPD) PPNI Kabupaten Sumba Tengah memilih merayakannya dengan cara yang substantif: turun langsung ke tengah masyarakat melalui kegiatan Bakti Sosial (Baksos) pelayanan kesehatan di Desa Ole Ate.

Kegiatan yang digelar pada Kamis (19/02/2026) di Kantor Desa Ole Ate, Kecamatan Mamboro, Kabupaten Sumba Tengah, Provinsi NTT tersebut bukan sekadar agenda seremonial organisasi. Acara tersebut menjadi penegasan bahwa profesi perawat tidak boleh berjarak dari rakyat, terutama masyarakat yang akses kesehatannya masih terbatas.

Acara dihadiri oleh jajaran pengurus DPD PPNI Sumba Tengah, Kepala Desa Ole Ate, serta masyarakat setempat yang sejak pagi telah memadati lokasi kegiatan. Prosesi pembukaan dilaksanakan sesuai protokol organisasi PPNI, menandai bahwa kegiatan pengabdian ini tetap berjalan dalam koridor tata kelola organisasi yang tertib dan profesional.

Antusias peserta saat mengikuti kegiatan ini.

Ketua DPD PPNI Kabupaten Sumba Tengah, Adrian Rambu Juni Rana, S.Kep., Ns., dalam sambutannya menegaskan bahwa kehadiran perawat di desa adalah bagian dari tanggung jawab moral profesi.

“Turun langsung ke desa bukan hanya tentang pelayanan medis, tetapi tentang komitmen kemanusiaan. Ketika kesehatan masyarakat meningkat, maka kesejahteraan pun ikut terangkat,” ujarnya.

Menurut Adrian, momentum HUT PPNI ke-52 harus dimaknai lebih dari sekadar perayaan usia organisasi. Ia harus menjadi ruang refleksi sekaligus aksi nyata untuk memperkuat kontribusi perawat dalam pembangunan kesehatan daerah.

Inisiatif “jemput bola” yang dilakukan PPNI ini mendapat sambutan positif dari pemerintah desa. Kepala Desa Ole Ate, Piter Alexander Bolo, S.Pi., menyampaikan apresiasi atas kepedulian tenaga kesehatan yang hadir memberikan pelayanan profesional bagi warganya.

Dalam sambutannya, ia mengutip pesan Gubernur NTT bahwa “senyuman petugas adalah obat yang manjur dalam melayani masyarakat.” Pesan tersebut, menurutnya, sederhana namun mendalam: “pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan kompetensi klinis, tetapi juga membutuhkan empati dan pendekatan humanis”.

Ia juga mengimbau masyarakat agar bijak dalam mencari pengobatan. Warga diminta memanfaatkan tenaga kesehatan resmi perawat, bidan, maupun dokter serta tidak lagi bergantung pada penjual obat di luar sistem pelayanan medis yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Setelah seremoni pembukaan, kegiatan berlanjut dengan penyuluhan kesehatan mental. Sesi ini dirancang untuk membuka wawasan masyarakat bahwa kesehatan tidak hanya berbicara tentang tekanan darah atau kadar gula, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mengelola emosi, stres, dan keseimbangan jiwa dalam kehidupan sehari-hari.

Edukasi ini terasa relevan, mengingat tantangan sosial dan ekonomi yang sering kali memengaruhi kondisi psikologis masyarakat desa. Melalui pendekatan yang komunikatif dan mudah dipahami, warga diajak untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental sebagai bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh.

Antusiasme masyarakat semakin terlihat ketika memasuki sesi Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG). Layanan yang diberikan bersifat komprehensif, meliputi pengukuran parameter kesehatan dasar seperti tekanan darah, berat badan, dan tinggi badan, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta konsultasi langsung dengan dokter.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, masyarakat yang membutuhkan langsung mendapatkan terapi dan obat-obatan secara gratis sesuai kondisi klinis masing-masing. Pola pelayanan ini memastikan bahwa setiap warga tidak hanya diperiksa, tetapi juga ditindaklanjuti secara tepat.

Senyum warga yang meninggalkan lokasi kegiatan dengan membawa obat di tangan menjadi gambaran sederhana namun bermakna. Pelayanan yang diberikan hari itu tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga menghadirkan rasa aman, diperhatikan, dan dihargai.

Momentum pengabdian menjelang HUT ke-52 PPNI ini diharapkan menjadi penguat kolaborasi antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, dan masyarakat. Dengan sinergi yang terbangun, upaya meningkatkan derajat kesehatan di Sumba Tengah tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama.

Bagi PPNI Sumba Tengah, bakti sosial ini adalah penegasan bahwa usia organisasi yang semakin matang harus diiringi dengan kedekatan yang semakin kuat dengan masyarakat. Sebab pada akhirnya, makna profesi perawat menemukan puncaknya ketika ia benar-benar hadir, melayani, dan memberi harapan.

 

Penulis : Daud Data Mawi, S.Kep., Ns.

Editor : Hadi

Sebelumnya

Ketua DPW PPNI NTT Tekankan Peran Ayah dalam Peningkatan Cakupan Imunisasi di Alor

Selanjutnya

Bukti Komitmen Berkelanjutan, PPNI Sumba Tengah Kembali Gelar Pelayanan Kesehatan di Desa Terpencil

admin
Penulis

admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Info Perawat
Alaku
Alaku